Air Pembuangan Dari Tambak Harus Diolah

Air Pembuangan Dari Tambak Harus Diolah

Air Pembuangan Dari Tambak Harus Diolah – Budidaya udang vannamei dengan sistem intensif semakin masif. Tak elak intensifikasi budidaya udang berimplikasi pada meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan dalam suatu tambak. Terutama limbah organik berupa feses udang dan sisa-sisa pakan terbuang yang tidak dimakan. Limbah organik ini akan mengendap dan menjadi lumpur di dasar tambak. Jika penanganan dari pengelola atau teknisi tambak kurang tepat, intensifikasi akan menjadi bumerang yang membahayakan proses budidaya. Pengelolaan limbah di dalam tambak akan lebih baik jika memahami secara rinci proses apa saja yang terjadi dan organisme apa saja yang terlibat di dalamnya. Perlu pemahaman dan eksekusi yang bijak dalam pengolahan limbah tambak intensif.

Pengolahan Limbah
Menurut Ge Recta Geson, praktisi yang berpengalaman di dunia perudangan, emahaman ilmiah penting untuk menge­ tahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam tambak. Karena menurut Recta, petambak layaknya seorang dokter yang harus mampu mendiagnosa apa yang sebenarnya terjadi di dalam tambak. Namun sayangnya, berbeda seperti dokter yang bisa mengetahui gejala sakit dengan bertanya pada pasien, seorang teknisi harus jeli melihat kondisi tambak melalui parameter-parameter tertentu, baik parameter kuantitaif seperti pH, alkali nitas, DO (Dissolved Oxygen), dan sebagainya maupun parameter kualitatif yang bisa dilihat oleh mata seperti perubah an warna air, busa, dan lainnya. Output (keluaran) dari pengelolaan limbah di dalam tambak adalah menciptakan lingkungan seimbang yang nyaman bagi pertumbuhan udang.

Menurut Recta, setidaknya ada 3 proses yang terjadi di dalam tambak selama budidaya berlang­ sung. Ketiga proses itu adalah fotoautotrof, kemoautotrof, dan heterotrof. Setiap proses tersebut melibatkan organisme yang berbeda-beda. Ketiga proses (sistem) tersebut berfungsi untuk mereduksi amonium hasil dekompoisi lumpur di dasar tambak. Sementara limbah organik di dasar yang tidak terdekomposisi dapat dibuang dengan penyifonan. Kalo sudah didekomposisi kita tidak bisa buang dengan sifon tapi yang harus kita lakukan dengan cara fotoautotrof, kemoautotrof, dan heterotrof, jelas Recta.

Proses Sintesa Lebih rinci Recta melanjutkan, bahwa pada proses fotoautotrof memiliki dua jenis proses yang berbeda sesuai dengan limbah organik yang akan dikurangi. Apakah menggunakan amonium atau nitrat. Kalo menggunakan amonium maka dia membutuhkan alkalinitas. Sebaliknya, kalo dia menggunakan nitrat maka dia tidak membutuhkan alakalinitas, malah dia menghasilkan alkalinitas, tutur Recta. Tetapi keduanya menghasilkan yang sama, yakni single cell protein berupa plankton. Menurut Recta, proses fotoautotrof ini selain dapat membersihkan amonium di dalam tambak, juga memiliki manfaat sebagai penghasil oksigen dan menjadi pakan alami bersama bakteri. Recta meyakini bahwa sekitar 76 % pasok an oksigen di dalam tambak disediakan oleh plankton.

Sementara dari difusi hanya 20 % saja, dan 4 % sisanya dari pergantian air dan aerasi. Proses reduksi amonium lainnya adalah dengan cara kemoautotrof. Reaksi biokimia ini dikenal juga dengan istilah nitrifikasi. Pada proses ini dibutuhkan bikarbonat sebagai sumber karbon untuk menghasilkan single cell protein bakteri seperti Nitrobacter dan Nitrosomonas. Berbeda dengan fotoautotrof yang memiliki beberapa manfaat lain selain penghilang amonium, kemoautotrof justru memiliki banyak kekurangan seperti dapat menurunkan nilai alkalinitas dankelarutan oksigen (DO).

Reaksi ini juga memungkinkan menghasil­ kan nitrat dan nitrit dalam jumlah yang terlalu banyak. Jika nitrat yang dihasilkan banyak, maka kemungkinan besar akan terjadi blooming plankton. Bahayanya plankton yang blooming adalah jenis BGA (blue green algae), ujar Recta. Recta tidak mengan jurkan sistem ini untuk digunakan pada tambak. Proses biokimia terahir menurut Recta adalah heterotrof. Reaksi ini, imbuh Recta, memerlukan karbon organik sebagai sumber karbon selain bikarbonat. Pada reaksi ini, alkalinitas akan cenderung stabil. Tidak akan cepat hilang, katanya.

Output pada rekasi ini adalah singel cell protein bakteri heterotrof seperti Bacillus. Manfaat reaksi ini pada tambak adalah selain amonium remover juga sebagai penghasil probiotik yang dikehendaki. Populasinya menurut Recta dapat diatur guna menekan bakteri jahat seperti Vibriosis. Pada reaksi ini, pH akan cenderung turun akibat CO (karbon dioksida) yang dihasilkan.

Namun penurunan pH ini, menurut Recta, dapat menurunkan risiko terjadinya toksik dari amoniak. Manfaat terahir dari heterotrof ini adalah bakteri yang dihasilkan bisa menjadi pakan alami mem­ bentuk bioflok. Diantara ketiga proses tersebut, Recta menganjurkan untuk mengkombinasi­ kan antara fotoautotrof dan heterotrof. Recta menyebut kombinasi tersebut dengan istilah herophototrophic system. Kedua proses ini memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan kemoautotrof.

Dalam proses pengolahan limbah tambak ini petani terkandala dengan pasokan listrik yang sering mati. Bahkan tidak jarang listrik mati dalam waktu yang lama dan mengganggu proses pengolahan ini. Saya sarankan bagi pemilik tambak jika ingin mengolah limbah tanpa di ganggu oleh listrik, segera miliki mesin genset solar yang sangat membantu anda. Harga genset ini tidak mahal apabila membelinya melalui distributor resmi.

PT. Rajawali Indo Utama jual genset yanmar solar termurah dan garansi resmi selama 1 tahun. Bila pemilik tambak ingin membeli genset, sebaiknya pada perusahaan tersebut saja.