Komoditas hortikultura Indonesia semakin jaya di pasar lokal dan global. Pasalnya, tahun lalu ekspor hortikultura seperti sayuran, buah, dan bunga meningkat 11,92% dengan nilai lebih dari Rp5 triliun. Produk asal Tanah Air berupa manggis, nanas, durian, pisang, benih kangkung, bawang merah, wortel tanaman obat, dan tanaman hias itu dipasarkan ke 113 negara, seperti China, Hongkong, Singapura, Jepang, hingga Uni Emirat Arab.

Realisasi Ekspor 2018 Data Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan selama 2018, ekspor sayuran, bunga, dan buah berturut-turut naik 4,8%, 7,03%, dan 26,27%. “Capaian tren ekspor yang baik di subsektor hortikultura perlu kita tingkatkan di 2019, termasuk ekspor manggis yang tercatat bisa naik 500%,” kata Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. Amran menjelaskan, ekspor sayuran dari Kab. Bandung Barat, Jabar misalnya, mencapai 1.500 ton setahun atau 3,5–4 ton per hari.

Tahun ini dan selanjutnya, volume ekspor terus ditingkatkan dengan menjajaki negara-negara baru sehingga pasar ekspor semakin diperluas. “Program peningkatan produksi sayuran yang kami laku kan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya. Menilik data BPS, Suwandi, Dirjen Hortikultura, Kementan menambahkan, ekspor nanas segar pada Januari-Oktober 2018 mencapai 11.247 ton. Angka ini naik 17,5% dari sebelumnya sebesar 9.586 ton. Konsumen buah bernama latin Ananas comosus itu adalah Uni Emirat Arab, Jepang, Hongkong, Singapura, Arab Saudi, Oman, Kanada, Kuwait, dan Korea Selatan. “Sebanyak 95% ekspor nanas dalam bentuk olahan dan sisanya dalam bentuk segar. Pangsa ekspor nanas 85% dari total ekspor buah,” ungkap Suwandi.

Semen tara, produksi nanas pada 2018 sebanyak 1,85 juta ton atau naik 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 1,79 juta ton. Kemudahan Usaha Untuk mendongkrak ekspor hortikultua, Kementan melakukan berbagai upaya, yaitu memberi kemudahan perizinan, penyediaan bantuan benih unggul ber produksi tinggi, pupuk, alat mesin pertanian, dan pendampingan. Kementan telah memangkas izin ekspor dan mencabut 291 peraturan yang menghambat ekspor. “Jika pada waktu itu dibutuhkan dari 13 hari hingga 3 bulang, saat sekarang ini eksportir hanya membutuhkan waktu selama 3 jam untuk mendapatkan sebuah izin ekspor melalui sistem online tanpa diperlukan kehadiran langsung”, jelas Amran.

Menteri juga menekankan perbaikan kualitas produk horti kultura sesuai permintaan negara tujuan. Pasalnya, eksportir menghendaki persyaratan ketat terkait kebersihan dan keamanan. Pemerintah juga gencar melobi berbagai negara untuk memasarkan komoditas hortikultura Indonesia, termasuk pengiriman secara langsung ke negara tujuan tanpa transit di negara lain. Selain itu, Amran mendorong lahirnya petani milenial yang mampu menciptakan terobosan inovasi teknologi baru. “Seluruh Indonesia kami rekrut 400 ribu petani milenial. Kami berikan bantuan baik alat mesin pertanian maupun pupuk,” ungkapnya.

Davy Rusli mewakili PT Momenta Agrikultura, salah satu eksportir menjelaskan, bis nis sayuran akhir-akhir ini menjadi primadona buat eksportir. Pasalnya, petani semakin banyak menggeluti budidaya sayur-sayuran sehingga eksportir tidak mengalami kekurangan pasokan. Ia berharap ekspor tahun ini bisa lebih besar dari tahun kemarin. Momenta mengekspor sebanyak 600 ton sayuran antara lain buncis, selada air, edamame, zuchini, kyuri, red oakleaf lettuce, dan radicchio. “Kita harapkan ekspor tahun 2019 mencapai 1.000 ton,” katanya optimistis.