Maraknya teknologi informasi ikut membuka peluang usaha di bidang agrowisata, termasuk kebun teh di kawasan Pegunungan Menoreh. Pemandangan hamparan kebun teh yang indah selalu menarik untuk dijadikan lokasi berkegiatan luar ruangan dan berfoto ria. Apalagi ketika penggunaan ponsel pintar kini begitu memasyarakat sehingga orang mudah berbagi-bagi foto tentang kondisi kebun dengan segala aktivitasnya. Melalui jejaring media sosial mereka menyebarkannya ke sanak keluarga, teman, atau bahkan publik.

Walhasil, ini menjadi sarana promosi paling efektif bagi pengelola wisata daerah yang menjadi setting komik “Api di Bukit Menoreh” karya S.H.Mitardja itu. Demikian pula harapan para petani teh yang berkebun di Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupa ten Kulonprogo, Yogyakarta. Kebun seluas 137 ha tersebut menjadi gantungan nafkah bagi 18 kelompok tani yang terdiri dari 327 kepala keluarga. Sebelum mengusa hakan wisata teh, mereka ber gantung sepenuhnya pada penjualan teh sebagai komoditas.

Sebelas Varian

Dengan bendera Kelompok Usaha Bersama (KUB) Menoreh Jaya, para petani tersebut kini memproduksi 11 varian teh. Varian-varian itu antara lain original, green tea, white tea, gold tea, yellow tea, jasmine, red tea, teh kualitas premium, Black Dragon, dan kayu manis. Varian yang paling favorit adalah green tea dan white tea. Khusus pengolahan teh premium dilakukan di Pusat Pengolahan Teh Menoreh (PPTM).

Ketua KUB Menoreh Jaya Murtiono menuturkan, produksi teh menoreh selama sebulan mencapai 3 kuintal yang dipasarkan dalam kemasan. Sedangkan teh basah 1,2 ton dan teh kering mencapai 1 ton lebih. Pen jualan teh menoreh dalam kemasan bisa mencapai 600 pak per 80 g dengan harga Rp15 ribu per pak. “Kalau pengunjung datang banyak, dapat mencapai 800 pak dalam sebulan. Tapi yang paling sering per bulan hanya 600 pak dengan penghasilan kurang lebih Rp9 juta per bulan,” jelas Murtiono. Lebih jauh Murtiono memaparkan, pengelolaan kebun teh saat ini sepenuhnya swadaya masyarakat sekitar dan kebun teh merupakan milik petani setempat.

Pemerintah daerah hanya mendorong dan memberikan dana untuk perawatan fasilitas dan perluasan rumah produksi teh khusus premium. Pemerintah pusat memberikan bimbingan teknis dan sarana pengolahan teh berupa rotary dryer (pengering) berkapasitas 50 kg. Selain itu ada juga tiga wajan tanah untuk penyaringan teh dan 300 paket cangkir antik dan teko. Peranti minum teh ini disediakan untuk menjamu para pengunjung yang ingin menikmati segarnya teh menoreh di langsung lokasi.