Wisata Edukasi

Untuk mendongkrak pendapatan petani dan masyarakat sekitar, kebun teh yang dibangun sejak 1990 itu tengah diupayakan men jadi destinasi wisata. Sukohadi, Manajer PPTM yang ditemui AGRINA di lokasi menjelaskan, kawasan perkebunan teh Menreh sebenarnya sudah banyak di kun jungi turis, baik lokal maupun mancanegara. Mereka tidak hanya melihat-lihat keindahan kebun teh, berswafoto, dan mencecap kesegaran teh langsung di lokasi. Namun, “Pengunjung juga kami berikan edukasi tentang pengolahan teh mulai dari pengeringan, pembakaran, hingga siap saji.

Ini menjadi nilai tambah wisata teh. Pengunjung sangat senang dan antusias dalam edukasi dan wisata di Kulonprogo. Karena itu sangat diperlukan adanya tempat khusus untuk menampung para pengunjung dan laboratorium untuk kajian nutrisi dan riset,” tutur Suko, sapaannya. Untuk para wisatawan itu, mereka menyediakan teh Menoreh siap jual dikemas isi 200 g dengan beragam varian dan harga. Teh ini terbilang favorit warga sekitar, pengunjung luar daerah Yogya, dan luar negeri. Turis mancanegara yang sering ber kunjung ber asal dari Inggris, Jerman, Pran cis, Amerika, Suri name, Yuna ni, Uni Emirat Arab, Australia, dan Spanyol.

Kadang turis ha nya berkunjung untuk membeli teh Menoreh favorit mereka, yaitu yellow tea. Ke-11 varian teh Menoreh, lanjut Suko, mempunyai keunggulan berupa kandungan katekin (antioksidan alami) yang tinggi, mencapai 37% pada saat seduhan pertama. Sebagai perbandingan, teh Eropa dan Jepang hanya mengandung 3% katekin saat seduhan pertama.

Pada seduhan kedua, kandungan katekin akan lebih tinggi lagi dengan rasa pahit yang pekat tetapi segar karena munculnya polifenol yang tinggi. Suko dan kawan-kawannya masih menyimpan asa, yaitu melempar teh Menoreh ke pasar global. Mereka tidak asal mimpi. Sejumlah turis mancanegara telah membeli dalam jumlah banyak 10-20 kg. “Turis yang sudah mengenal teh Menoreh rela membayar harga Rp1 juta untuk setengah kuintal tanpa ditawar sama sekali,” ujarnya mantap. Kunjungan turis dari berbagai negara itu jelas memberikan nilai plus warga sekitar.

Kegiatan wisata dapat membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda setempat tanpa harus keluar dari desa mereka. Penurunan angka pengangguran dan kemiskinan akan berdampak positif bagi negara. Kendati demikian dukungan pemerintah masih diharapkan agar Kampung Teh di Yogya yang tidak kalah menariknya dengan Kampung Coklat di Blitar, Jawa Timur, bisa terwujud. Meski belum tersedia angkutan umum menuju Nglinggo, destinasi wisata berjarak 1,5 jam bermobil dari pusat kota Yogyakarta ini layak disambangi untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan tentang teh.