Menumbuhkan Kewaspadaan Si Batita Bagian 2

Respons Yang Sesuai

Menurut Arrum, karena kematangan intelektual anak batita belum sepenuhnya sempurna, maka pengenalan akan konsep waspada harus melalui proses belajar yang konkret. Untuk itu orangtua juga perlu memberi umpan balik atau respons yang sesuai. Misalnya, saat anak menunjukkan sikap berani dan menunjukkan prestasi, kita perlu memberikan pelukan dan pujian.

Sebaliknya, bila ia melakukan tindakan yang nekat, berlari mendekati jalanan yang ramai dengan kendaraan tanpa berhatihati, kita perlu melindungi dan menegurnya, lalu memberi penjelasan dengan baik,” paparnya. Dengan respons yang sesuai, Mama dan Papa sudah mengajarkan konsep waspada. Waspada sendiri lebih merujuk pada kehati-hatian dalam bertindak karena tahu adanya bahaya yang mungkin terjadi dari suatu tindakan.

Kehati-hatian ini juga perlu selalu ditakar, sebab jika berlebih an akan menimbulkan efek negatif, seperti anak jadi kurang berinisiatif, mudah cemas, dan takut gagal. Jadi, pemberani adalah sikap yang positif, nekat adalah sikap yang negatif dan harus dihindari, sedangkan waspada sendiri bisa negatif atau positif, tergantung pada kadarnya. Yang perlu Mama dan Papa sadari, apabila orangtua memiliki banyak hal yang dipandangnya berbahaya dan mudah khawatir, maka biasanya mereka juga akan menanamkan rasa takut yang sama pada anaknya.

Kita tentu tak ingin si kecil menjadi pri badi yang mudah cemas. Menurut Arrum, jika Mama Papa termasuk tipe pencemas, maka kikis dulu sifat ini dengan berpikir realistis dan mengendalikan diri untuk tidak terlalu gampang melarang anak. Melarang boleh jika tindakan anak mengganggu orang lain atau memang ada bahaya yang benar-benar mengancam hidup dan keselamatannya. Ingat terlalu sering melarang akan memangkas kepercayaan diri anak yang seharusnya mulai berkembang di usia ini.

Ciptakan Lingkungan Aman

Untuk mengurangi risiko cedera tanpa banyak melarang, maka ciptakan atau hantarkan lingkungan yang aman kepada si batita. Benda-benda pecah belah yang bisa membuat luka atau benda lain yang berpotensi melukai, seperti colokan listrik, pisau, atau gunting, harus disimpan dan diletakkan di tempat yang aman. Arrum menegaskan, “Apabila kita bisa mela kukan tindakan un tuk meminimalisir potensi ba haya yang muncul, maka la kukanlah, daripada sekadar melarang dan membatasi ru ang bereksplorasinya.”

Bila kita tahu si kecil sangat suka berlarilari dan naik turun tangga misalnya, kitalah yang harus mengamankan lintasan berlarinya atau mendampinginya naik-turun tangga. Bila ia menunjukkan ketertarikan bermain gunting, maka berikan ia gunting kecil yang tidak terlalu tajam sehingga bisa dipakai untuk melatih keterampilan tangan. Dengan umpan balik yang tepat, secara bertahap anak akan memahami mana tindakan nekat yang harus dihentikan dan mana perilaku positif yang boleh diteruskan.