pascal-edu.com – Kita orangtua di larang memberi terlalu banyak larangan pada anak. Larangan baru dikeluarkan kalau alasannya benar-benar urgen. “Jangan naik tangga, nanti kamu jatuh.” “Jangan main di bawah pohon nanti ada semut.” Atau, “Sudah dulu main pasirnya, nanti tanganmu kotor,” menurut para pakar perkembangan anak bukanlah larangan yang seharusnya diterapkan. Alasannya, fase eksplorasi memang dibutuhkan anak dalam rangka me ngenal dunia sekeliling dan me numbuhkan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri. Jadi, apa yang harus Mama Papa dilakukan?

Batita Dan Eksplorasi

Menurut Ratih Arruum Listiyandini, M.Psi., psikolog dari Universitas YARSI, Jakarta, faktor kebutuhan eksplorasi yang tinggi ditambah minimnya pengalaman mengenai arti bahaya serta pe nalaran yang belum sempurna menyebabkan anak batita kerap memunculkan perilaku “nekat”. Nekat me ru pakan perilaku yang dilakukan tan pa berpikir panjang, yang pada anak didasari oleh dorongan hati dan keingintahuannya. Ia tidak memahami konsekuensi yang mungkin muncul dari tindakannya tersebut. Alhasil, muncullah rasa khawatir pada orangtua.

Selain nekat, anak batita juga bisa jadi pemberani. Yang satu ini adalah kemampuan menantang diri sendiri meskipun ia tahu bahwa ada kemungkinan keputusannya ini akan membawa konsekuensi tak enak. Con tohnya keberanian bernyanyi di depan teman-teman, sementara teman-temannya meng anggap bahwa bernyanyi di depan orang banyak itu menakutkan.

Belum Kenal Takut

Masalahnya, untuk mengenal rasa takut akan bahaya di sekitarnya, anak membutuhkan pengalaman be lajar dan penalaran yang lebih sempurna,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Arrum ini. Juga, terbentuknya pemicu rasa takut sangat tergantung pada bagaimana orang di sekitarnya mengenalkan dan mengajari akan rasa takut itu sendiri.

Contoh, “Tuh lihat temanmu jatuh dari perosotan dan menangis kesakitan. Nah, kalau kamu manjat-manjat perosotan juga, akibatnya bisa jatuh dan sakit jadinya.” Dari sana, mulai terbentuklah konsep “takut memanjat perosotan”. Oleh karena perkembangan po la berpikir “sebab-akibat” belum sempurna pada diri anak batita, konsep kewaspadaan bisa diajarkan melalui pendampingan dan contoh-contoh langsung yang bersifat konkret.

“Stop” Dan “Awas”

Arrum tak mengingkari, terkadang ada situasi dimana kita belum sempat mengajarkan kewaspadaan akan sua tu hal, tapi si batita tahu-tahu melakukan hal yang kita golongkan nekat dan harus segera dihentikan. Dibanding melarang dengan kata “jangan” lebih baik gunakan kata “setop” atau “awas”, kata Arrum. Peringatan dibutuhkan saat ada situasi-situasi mendesak yang melibatkan bahaya. Membentak, memarahi apalagi me – mukul tidak akan membuat anak batita paham.

Sebaliknya, si kecil mungkin kaget, tersinggung, atau marah. Oleh karena itu, setelah memberi peringatan dan mengamankan si kecil, yang perlu kita lakukan adalah memeluknya dan memberi penjelasan se der hana tentang alasan peringatan kita. Misalnya, “Kompor itu panas dan bisa bikin kulitmu sakit. Makanya Mama melarang kamu memainkan kompor.”

Tatap matanya dan komunikasikan larangan dengan sehangat mungkin, sehingga si kecil tahu bahwa maksud mamanya baik, bukan karena marah atau tidak suka padanya. Peringatan mendadak saat potensi bahaya muncul harus selalu disertai dengan penjelasan. Jika tidak, si batita cenderung akan mengulangi lagi karena tidak paham maksud larangan Mama dan Papanya. Ia juga akan “kebal” pada larangan kita jika terlalu sering mendengarnya.