Memetik Rupiah dari Kebun Teh Bagian 2

Wisata Edukasi

Untuk mendongkrak pendapatan petani dan masyarakat sekitar, kebun teh yang dibangun sejak 1990 itu tengah diupayakan men jadi destinasi wisata. Sukohadi, Manajer PPTM yang ditemui AGRINA di lokasi menjelaskan, kawasan perkebunan teh Menreh sebenarnya sudah banyak di kun jungi turis, baik lokal maupun mancanegara. Mereka tidak hanya melihat-lihat keindahan kebun teh, berswafoto, dan mencecap kesegaran teh langsung di lokasi. Namun, “Pengunjung juga kami berikan edukasi tentang pengolahan teh mulai dari pengeringan, pembakaran, hingga siap saji.

Ini menjadi nilai tambah wisata teh. Pengunjung sangat senang dan antusias dalam edukasi dan wisata di Kulonprogo. Karena itu sangat diperlukan adanya tempat khusus untuk menampung para pengunjung dan laboratorium untuk kajian nutrisi dan riset,” tutur Suko, sapaannya. Untuk para wisatawan itu, mereka menyediakan teh Menoreh siap jual dikemas isi 200 g dengan beragam varian dan harga. Teh ini terbilang favorit warga sekitar, pengunjung luar daerah Yogya, dan luar negeri. Turis mancanegara yang sering ber kunjung ber asal dari Inggris, Jerman, Pran cis, Amerika, Suri name, Yuna ni, Uni Emirat Arab, Australia, dan Spanyol.

Kadang turis ha nya berkunjung untuk membeli teh Menoreh favorit mereka, yaitu yellow tea. Ke-11 varian teh Menoreh, lanjut Suko, mempunyai keunggulan berupa kandungan katekin (antioksidan alami) yang tinggi, mencapai 37% pada saat seduhan pertama. Sebagai perbandingan, teh Eropa dan Jepang hanya mengandung 3% katekin saat seduhan pertama.

Pada seduhan kedua, kandungan katekin akan lebih tinggi lagi dengan rasa pahit yang pekat tetapi segar karena munculnya polifenol yang tinggi. Suko dan kawan-kawannya masih menyimpan asa, yaitu melempar teh Menoreh ke pasar global. Mereka tidak asal mimpi. Sejumlah turis mancanegara telah membeli dalam jumlah banyak 10-20 kg. “Turis yang sudah mengenal teh Menoreh rela membayar harga Rp1 juta untuk setengah kuintal tanpa ditawar sama sekali,” ujarnya mantap. Kunjungan turis dari berbagai negara itu jelas memberikan nilai plus warga sekitar.

Kegiatan wisata dapat membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda setempat tanpa harus keluar dari desa mereka. Penurunan angka pengangguran dan kemiskinan akan berdampak positif bagi negara. Kendati demikian dukungan pemerintah masih diharapkan agar Kampung Teh di Yogya yang tidak kalah menariknya dengan Kampung Coklat di Blitar, Jawa Timur, bisa terwujud. Meski belum tersedia angkutan umum menuju Nglinggo, destinasi wisata berjarak 1,5 jam bermobil dari pusat kota Yogyakarta ini layak disambangi untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan tentang teh.

Memetik Rupiah dari Kebun Teh Bagian 1

Maraknya teknologi informasi ikut membuka peluang usaha di bidang agrowisata, termasuk kebun teh di kawasan Pegunungan Menoreh. Pemandangan hamparan kebun teh yang indah selalu menarik untuk dijadikan lokasi berkegiatan luar ruangan dan berfoto ria. Apalagi ketika penggunaan ponsel pintar kini begitu memasyarakat sehingga orang mudah berbagi-bagi foto tentang kondisi kebun dengan segala aktivitasnya. Melalui jejaring media sosial mereka menyebarkannya ke sanak keluarga, teman, atau bahkan publik.

Walhasil, ini menjadi sarana promosi paling efektif bagi pengelola wisata daerah yang menjadi setting komik “Api di Bukit Menoreh” karya S.H.Mitardja itu. Demikian pula harapan para petani teh yang berkebun di Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupa ten Kulonprogo, Yogyakarta. Kebun seluas 137 ha tersebut menjadi gantungan nafkah bagi 18 kelompok tani yang terdiri dari 327 kepala keluarga. Sebelum mengusa hakan wisata teh, mereka ber gantung sepenuhnya pada penjualan teh sebagai komoditas.

Sebelas Varian

Dengan bendera Kelompok Usaha Bersama (KUB) Menoreh Jaya, para petani tersebut kini memproduksi 11 varian teh. Varian-varian itu antara lain original, green tea, white tea, gold tea, yellow tea, jasmine, red tea, teh kualitas premium, Black Dragon, dan kayu manis. Varian yang paling favorit adalah green tea dan white tea. Khusus pengolahan teh premium dilakukan di Pusat Pengolahan Teh Menoreh (PPTM).

Ketua KUB Menoreh Jaya Murtiono menuturkan, produksi teh menoreh selama sebulan mencapai 3 kuintal yang dipasarkan dalam kemasan. Sedangkan teh basah 1,2 ton dan teh kering mencapai 1 ton lebih. Pen jualan teh menoreh dalam kemasan bisa mencapai 600 pak per 80 g dengan harga Rp15 ribu per pak. “Kalau pengunjung datang banyak, dapat mencapai 800 pak dalam sebulan. Tapi yang paling sering per bulan hanya 600 pak dengan penghasilan kurang lebih Rp9 juta per bulan,” jelas Murtiono. Lebih jauh Murtiono memaparkan, pengelolaan kebun teh saat ini sepenuhnya swadaya masyarakat sekitar dan kebun teh merupakan milik petani setempat.

Pemerintah daerah hanya mendorong dan memberikan dana untuk perawatan fasilitas dan perluasan rumah produksi teh khusus premium. Pemerintah pusat memberikan bimbingan teknis dan sarana pengolahan teh berupa rotary dryer (pengering) berkapasitas 50 kg. Selain itu ada juga tiga wajan tanah untuk penyaringan teh dan 300 paket cangkir antik dan teko. Peranti minum teh ini disediakan untuk menjamu para pengunjung yang ingin menikmati segarnya teh menoreh di langsung lokasi.

Memanen Devisa dari Hortikultura

Komoditas hortikultura Indonesia semakin jaya di pasar lokal dan global. Pasalnya, tahun lalu ekspor hortikultura seperti sayuran, buah, dan bunga meningkat 11,92% dengan nilai lebih dari Rp5 triliun. Produk asal Tanah Air berupa manggis, nanas, durian, pisang, benih kangkung, bawang merah, wortel tanaman obat, dan tanaman hias itu dipasarkan ke 113 negara, seperti China, Hongkong, Singapura, Jepang, hingga Uni Emirat Arab.

Realisasi Ekspor 2018 Data Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan selama 2018, ekspor sayuran, bunga, dan buah berturut-turut naik 4,8%, 7,03%, dan 26,27%. “Capaian tren ekspor yang baik di subsektor hortikultura perlu kita tingkatkan di 2019, termasuk ekspor manggis yang tercatat bisa naik 500%,” kata Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. Amran menjelaskan, ekspor sayuran dari Kab. Bandung Barat, Jabar misalnya, mencapai 1.500 ton setahun atau 3,5–4 ton per hari.

Tahun ini dan selanjutnya, volume ekspor terus ditingkatkan dengan menjajaki negara-negara baru sehingga pasar ekspor semakin diperluas. “Program peningkatan produksi sayuran yang kami laku kan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya. Menilik data BPS, Suwandi, Dirjen Hortikultura, Kementan menambahkan, ekspor nanas segar pada Januari-Oktober 2018 mencapai 11.247 ton. Angka ini naik 17,5% dari sebelumnya sebesar 9.586 ton. Konsumen buah bernama latin Ananas comosus itu adalah Uni Emirat Arab, Jepang, Hongkong, Singapura, Arab Saudi, Oman, Kanada, Kuwait, dan Korea Selatan. “Sebanyak 95% ekspor nanas dalam bentuk olahan dan sisanya dalam bentuk segar. Pangsa ekspor nanas 85% dari total ekspor buah,” ungkap Suwandi.

Semen tara, produksi nanas pada 2018 sebanyak 1,85 juta ton atau naik 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 1,79 juta ton. Kemudahan Usaha Untuk mendongkrak ekspor hortikultua, Kementan melakukan berbagai upaya, yaitu memberi kemudahan perizinan, penyediaan bantuan benih unggul ber produksi tinggi, pupuk, alat mesin pertanian, dan pendampingan. Kementan telah memangkas izin ekspor dan mencabut 291 peraturan yang menghambat ekspor. “Jika pada waktu itu dibutuhkan dari 13 hari hingga 3 bulang, saat sekarang ini eksportir hanya membutuhkan waktu selama 3 jam untuk mendapatkan sebuah izin ekspor melalui sistem online tanpa diperlukan kehadiran langsung”, jelas Amran.

Menteri juga menekankan perbaikan kualitas produk horti kultura sesuai permintaan negara tujuan. Pasalnya, eksportir menghendaki persyaratan ketat terkait kebersihan dan keamanan. Pemerintah juga gencar melobi berbagai negara untuk memasarkan komoditas hortikultura Indonesia, termasuk pengiriman secara langsung ke negara tujuan tanpa transit di negara lain. Selain itu, Amran mendorong lahirnya petani milenial yang mampu menciptakan terobosan inovasi teknologi baru. “Seluruh Indonesia kami rekrut 400 ribu petani milenial. Kami berikan bantuan baik alat mesin pertanian maupun pupuk,” ungkapnya.

Davy Rusli mewakili PT Momenta Agrikultura, salah satu eksportir menjelaskan, bis nis sayuran akhir-akhir ini menjadi primadona buat eksportir. Pasalnya, petani semakin banyak menggeluti budidaya sayur-sayuran sehingga eksportir tidak mengalami kekurangan pasokan. Ia berharap ekspor tahun ini bisa lebih besar dari tahun kemarin. Momenta mengekspor sebanyak 600 ton sayuran antara lain buncis, selada air, edamame, zuchini, kyuri, red oakleaf lettuce, dan radicchio. “Kita harapkan ekspor tahun 2019 mencapai 1.000 ton,” katanya optimistis.

Tips Mempercantik Pagar dengan Tanaman

Bosan dengan tampilan pagar yang itu-itu saja? Berbagai jenis tanaman berikut ini bisa jadi pilihan untuk penghias pagar supaya indah dan memberikan suasana alami. “Rumah saya yang pagarnya berwarna hitam”. Kalimat semacam itu sering kita ucapkan untuk memberi petunjuk pada tamu yang akan berkunjung ke rumah kita.Ya, selain menjadi pengaman rumah, pagar dapat berfungsi menjadi identitas rumah. Hal ini yang membuat banyak orang membuat pagar seunik mungkin. Tujuannya, memudahkan orang mengenali rumah sekaligus meninggalkan kesan tersendiri bagi orang yang melihatnya.

Salah satu yang bisa Anda lakukan untuk membuat pagar rumah unik adalah dengan memberikan tanaman di sekitar pagar. Kehadiran tanaman akan memberikan suasana alami sekaligus memberikan manfaat bagi pemilik rumah. Misalnya, menanam bambu sebagai penutup pagar akan mengurangi bunyi bising dan menyaring debu agar tidak masuk ke dalam rumah. Menurut Herlien Primayanti, arsitek lansekap dari Primalands, ketika ingin menghadirkan tanaman untuk pagar ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Di antaranya, pemilik rumah harus memilih tanaman sesuai dengan suhu lingkungan sekitar rumah dan model pagar yang dimiliki. “Ada beberapa tanaman pagar yang bisa hidup di tempat yang panas namun tidak bisa berbunga dengan indah seperti pada tempat dingin,” kata Herlien. Tanaman untuk pagar juga terdiri dari berbagai pilihan. Anda bisa menanam tanaman sebagai pembatas, menggunakan tanaman rambat sebagai penutup pagar, atau menutup tembok dengan tanaman rambat misalnya daun dolar. Berikut ini berbagai pilihan tanaman yang bisa Anda pilih untuk mempercantik pagar.

Tanaman Rambat

Bisa dibilang tanaman rambat adalah jenis tumbuhan favorit yang digunakan untuk menghias bagian luar rumah. Biasanya tanaman rambat digunakan pada kanopi dan pergola. Sedangkan untuk pagar, ada beberapa jenis tanaman rambat yang bisa digunakan sebagai penutup. Tanaman rambat yang berbunga cantik biasanya jadi pilihan penutup pagar. Misalnya: alamanda, air mata pengantin, dan melati belanda. Selain memiliki bunga yang indah, tanaman rambat ini juga cocok ditanam pada daerah panas, seperti Jakarta dan sekitarnya.

Masa berbunga tanaman rambat juga berbeda-beda. Alamanda dan air mata pengantin adalah beberapa contoh tanaman rambat yang rajin berbunga. Menurut Herlien, kondisi cuaca dan iklim juga menentukan seberapa sering bunga muncul. Ketika tanaman ‘malas’ berbunga selain rutin menyiram, Herlien menyarankan untuk memberikan pupuk jenis NPK pada tanaman agar lebih rutin berbunga. “Pupuk NPK diberikan paling tidak satu bulan sekali,” ujar Herlien.

Sebelum menanam tanaman rambat sebagai penutup pagar, ada sedikit tips yang bisa Anda ikuti. Jika pagar yang Anda miliki berukuran besar, Herlien menyarankan menggunakan tanaman rambat yang berdaun lebar, seperti alamanda dan tanaman passi?ora. Sebaliknya, jika pagar berukuran kecil gunakan jenis tanaman rambat dengan daun dan bunga yang kecil, seperti air mata pengantin dan melati belanda. Hal ini dilakukan agar tampilan lebih seimbang sehingga pagar tampak cantik. Harga tanaman rambat Rp30.000–Rp50.000 per polybag.

Tanaman Sebagai Pembatas

Jika rumah Anda berada di klaster perumahan dan pengembang tidak memperkenankan membangun pagar di sekitar rumah, Anda bisa menggunakan tanaman sebagai pembatas. Beberapa jenis tanaman yang bisa Anda pakai sebagai pembatas antara lain jenis tehtehan, soka, kembang sepatu, kaca piring, atau yang saat ini sedang banyak diminati yaitu pucuk merah. Sebelum memilih jenis apa yang akan dijadikan tanaman pembatas atau pagar, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal. Perhatikan luas lahan yang akan ditanami tanaman pembatas. Herlien memberikan perkiraan untuk panjang tanah 1m, dibutuhkan ±12 kantung tanaman pucuk merah. Penanaman juga perlu teknik tersendiri, tanaman harus ditanam berdekatan dan dibuat dua baris.

Hal ini dilakukan agar ketika tumbuh, tanaman pembatas akan tumbuh rapat dan terlihat indah. “Saat akan menanam tanaman pembatas juga bisa dibuat membentuk pola sesuai keinginan pemilik rumah,” kata Herlien. Sebagai perawatan, Anda harus merapikan tanaman pembatas secara rutin. Idealnya pemotongan dilakukan dua minggu sekali. Anda juga bebas memilih ingin membentuk tanaman pembatas atau tidak, karena inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari tanaman ini. Anda bisa menggunakan jasa tukang taman untuk membentuk tanaman pembatas pagar Anda menjadi bentuk yang unik dan indah. Harga tanaman teh-tehan: Rp5000–Rp10.000 per polybag.

Agar Tanaman Rambat Tumbuh Dengan Baik

• Pilih tanaman sesuai kebutuhan sebab setiap tanaman rambat mempunyai karakter tersendiri.

• Apabila tanaman akan ditempatkan pada area yang terbuka, alangkah baiknya melalukan penanaman bibitnya pada saat musim penghujan agar lebih hemat tenaga dalam pembibitan.

• Letakkan di tempat yang terkena sinar matahari karena tanaman rambat sangat menyukai sinar matahari penuh.

• Buat pengikatan tanaman pada rambatan. Fungsinya agar tanaman memiliki bentuk dan arah sesuai yang diinginkan.

• Lakukan pemangkasan secara berkala. Pangkas tanaman rambat dengan teknik pangkas samping, yaitu memotong batang bagian samping, bukan batang utama.

Selain mempercantik rumah dengan meletakkan tanaman di pagar , perlu juga sebuah rumah dilengkapi dengan generator set atau genset. Genset sangat bermanfaat untuk memberikan energi listrik alternatif ketika sedang terjadi pemadaman listrik. Genset silent adalah pilihan tepat untuk rumah tangga karena tidak berisik. Untuk mendapatkan harga genset silent murah bisa membeli pada distribtor resmi genset silent 100 kva di Jakarta. Salah satu distributor resmi terpercaya genset silent di Jakarta adalah PT. Rajawali Indo yang selalu ready semua produknya. Selain itu juga harga diskon untuk setiap unit yang dipesan. Karena tidak ada keraguan lagi untuk membeli genset di PT. Rajawali Indo.

Amankan Sawit sebagai Industri Strategis Bagian 3



Kesejahteraan menjadi Prioritas

Pertemuan dengan Malaysia, kita membentuk OPEC-nya kelapa sawit, yaitu CPO Producing Coun – tries (CPOPC). Indonesia dan Malaysia, dua produ – sen besar dunia, sehingga sawit jangan sampai ditentukan negara lain tapi kita juga harus memperhati – kan lingkungan. Indonesia harus satu. Jangan sampai kita didikte ne gara lain akibat persaingan antara soybean oil (mi – nyak kedelai) dengan sawit. Terkait tekanan Lem – baga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dikeluhkan para pelaku sawit, apa urusan LSM mengatur kita? Kita harus mengatur diri kita sendiri, tapi kita juga harus bertanggung jawab bahwa sustainability (keberlanjutan) itu concern kita. Kita tidak mau anak cucu kita diwarisi lingkungan yang rusak rusak. Jangan mereka (LSM) merasa lebih hebat. Mereka bilang sawit merusak lingkungan untuk monyet segala macam.

Nah, monyet kepala hitam mau dikemanain kalau industri sawit terganggu? Bayangkan 20 juta orang yang terdampak loh. Nah, dua monyet atau 30 monyet kena masalah saja sudah ribut. Bukan kita tidak concern, tapi our top priority is the prosperity of our people. Itu harus jelas! Bukan kita tidak peduli dengan lingkungan. Kalau aksi LSM ini kita evaluasi sudah mengganggu ekonomi, akan kita ingatkan. Bila masih tetap mengganggu, kita suruh mereka pergi. Kita ajak kerja sama, pemerintah dan pemilik HTI serta perkebunan kelapa sawit bikin tim pencegahan kebakaran. Apalagi di lahan gambut. Kita sudah salah memberikan gambut 6,3 juta ha selama 10 tahun terakhir. Tetapi itu sudah lewat. Kita masih bisa sama-sama mengatasi masalah tersebut. Kontribusi sawit sebesar US$20 miliar, it’s huge money! Orang tidak boleh main-main. Kalau ini rusak, berapa lapangan kerja yang hilang? Tapi di sisi lain kita yang punya industri sawit juga harus memperhatikan lingkungan dan harus meningkat – kan efisiensi.

Terkait isu keamanan, pengurangan kesenjangan dengan pemerataan kesejahteraan sangat penting. Di sini peran sawit luar biasa yang memberi peng – hi dupan jutaan orang. Kami minta pelaku kelapa sawit ikut berkontribusi melawan radikalisme dan memberantas narkoba. Indonesia mengambil kebijakan melawan radikalisme, seperti ISIS, bukan dengan kekerasan tetapi mengedepankan pendekatan religius dan budaya. Namun bukan berarti tidak melakukan tindakan keras, kalau diperlukan tetap kita lakukan. Kita sosialisasikan bersama, ISIS bukan Islam dan Islam bukan ISIS. Narkoba juga bahaya yang sangat serius karena mengancam kita tanpa pandang agama, usia, dan sosial ekonomi. Sebanyak 5,9 juta orang terjerat narkoba. Kita harus tanggulangi bersama-sama.



Amankan Sawit sebagai Industri Strategis Bagian 2



Bersamaan dengan itu pelaku usaha sawit tidak bisa lagi bermain-main. Sebagai Menkopolhukam, ka mi punya hak melihat data Pusat Pelaporan dan Ana lisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dan dari situ kami mendapatkan mungkin masih sekian puluh ribu triliun yang belum membayar pajak. Kita punya database yang bagus dari pilkada sebanyak 172 juta orang. Ini sedang kita sisir. Pemain kelapa sawit harus mulai mendisiplinkan di – ri nya karena sudah menuai untung banyak. Bagai ma – na caranya? Tinggalkan uang Anda di Indonesia, ja – ngan dibikin keluar semua. Jangan bilang main valas rugi lantas mengaku perusahaan rugi. Kami, walau – pun tentara, masih ada perusahaan sawit kecil, masih dapat deviden. Jadi kami tahu angka-angka itu.

Pelaku usaha tidak bisa bohongi kami lagi. Meskipun ekonomi tidak begitu bagus, masih bisa untung dengan membuat struktur biaya yang hemat. Efisiensi adalah kata kunci. Efisiensi itu juga yang dilakukan pemerintah di sega – la bidang sehingga kita tidak masuk ke resesi ekonomi. Selain itu juga ada leadership yang baik. Kete la – danan dalam memimpin itu penting, sesuai kata de – ngan perbuatan. Sudahlah hentikan tindakan mencu – ri-curi itu. Ada tax amnesty (pengampunan pajak). Yang membuat itu bukan Ditjen Pajak, tapi tim independen yang dibentuk presiden. Kenapa? Kami ingin keadilan.

Untuk pemain kelapa sawit juga tolong itu hi dupkan di hati masing-masing. Kalau Anda me mim – pin perusahaan, bayar pajak dengan benar, anak buah akan mencontoh. Terkait harga makanan, persediaan kebutuhan po – kok terjaga tapi harga kita kontrol. Kenapa Men ko – pol hukam mengurusi pangan? Karena kalau ribut, keamanan juga pasti terganggu. Jadi seperti dua sisi mata uang antara keamanan, stabilitas, dan ekonomi. Menko sekarang tidak hanya berurusan dengan koordinasi tapi juga pengendalian. Ada otoritas untuk melakukan pengecekan semua kegiatan guna menciptakan stabilitas.

Ekonomi Perbatasan dan Lingkungan

Luas perkebunan kelapa sawit kita sekarang sekitar 10 juta ha, 40% atau 41% kepemilikannya di tangan petani rakyat. Saat ini produktivitas kebun petani masih rendah. Bagaimana supaya hasil kebun rakyat bisa naik? Ini bisa dibantu dengan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit melalui program replanting (peremajaan). Kalau itu bisa dibantu, petani bisa lebih sejahtera. Pemerataan akan lebih bagus. Jangan mikir diri sendiri terus. Jadi kita harus bicara tak hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan. Strategi pembangunan di perbatasan dengan kata kunci keterpaduan pengembangan wilayah. Jangan hanya bikin uang, tapi juga harus melakukan peme – ra taan. Kalau tidak dilakukan, kita tidak akan bagus ke depan.

Sekarang ada kawasan seluas 1.100 km2 di perbatasan. Di beberapa tempat yang cocok, kami akan buka lahan kelapa sawit sebagai security belt Indo – nesia. Tapi kami juga ingin akan lebih banyak plasma daripada inti supaya rakyat kita menikmati. Jangan kita rakus. Ketentuan luasan 70% (inti) : 30% (plasma) itu harus kita laksanakan. Tidak bisa lagi seperti yang lalu. Kita harus bikin negeri ini tertib. Kita akan bikin “potret” wilayah-wilayah perbatasan yang bagus. Terkait kebakaran yang lalu, kami terbang dua kali dan turun untuk melihat fakta lapangan. Memang lahan kelapa sawit tidak banyak yang terbakar, yang banyak HTI (Hutan Tanaman Industri). Karena apa? Lahannya gambut. Kita baru tahu ada lahan gambut yang kedalamannya 55 m di Sumatera. Kalau ini terbakar 3-4 hari, impossible Anda bisa memadamkan. Hanya bisa padam dengan hujan. Kita akan lakukan restorasi bekas kebakaran dengan ilmu-ilmu yang ada. Ke depan kita bisa hindari itu.

Amankan Sawit sebagai Industri Strategis

P ertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 mencapai 6,3%-6,4%. Waktu itu kita mengalami booming. Namun, begitu harga komoditas di pasar internasional jatuh, pertumbuhan ekonomi kita turun. Sebenarnya kita mengalami penurunan ekonomi sejak 2011 terus menurun sampai 4,73%, baru kuartal ketiga 2015 mulai naik kembali. Karena itu kita harus berubah dari perekonomian berbasis komoditas (commodity based) ke berbasis manufaktur (manufacture based). Paket-paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah sejak September 2015 akan terlihat dam – pak positifnya mungkin mulai Februari atau Maret men datang. Maka pertumbuhan ekonomi kita bisa men capai 5,6% atau lebih pada 2016. Bahkan ahli eko – nomi Australia berani memperkirakan pada 2017- 2018, ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 7%.

Industri Strategis

Pemerintah saat ini menginginkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Kita mencapainya de – ngan pengurangan kesenjangan pendapatan, pencip – taan lapangan kerja, dan menyediakan pangan yang mencukupi. Pengurangan kesenjangan ada hubung – annya dengan kelapa sawit. Pemerintah akan melindungi kelapa sawit sebagai industri strategis. Mengapa industri ini strategis? In dus tri ini membuka lapangan kerja untuk peng – hidupan 20 juta orang. Dan industri ini juga menda – tangkan US$20 miliar lebih per tahun ke kas negara. Ini luar biasa! Bila kita lihat produksi energi, minyak bumi seka – rang tinggal 800 ribu barel per hari bahkan kurang. Produksi gas memang lebih tinggi sekarang, tapi (ener gi) yang sustainable (berkelanjutan) adalah ke – la pa sawit. Tapi kelapa sawit jangan dikuasai se ke – lompok orang saja, harus ada pemerataan. Tidak bi – sa lagi ada penguasaan lahan berlebihan seperti se – karang ada yang 2,8 juta ha. Kita akan evaluasi lagi secara gradual tapi konsisten.

PENDIDIKAN JALAN, KOMPETISI KIAN MATANG

Lama sekolah di Australia, tidak mengurungkan niat Ranta Fauzi untuk membangun sebuah tim balap. Tiga tahun selepas lulus, tepatnya pada 2016 pemilik gelar S2 bidang bisnis ini mendirikan NIEC (Naresy International Education Consultant), sebuah lembaga konsultasi pendidikan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Di mulai dari konsultasi pencarian beasiswa, penyesuaian budget dengan negara yang dituju menjadi kesehariannya.

“Nah bikin tim balapnya pas 2018, karena hasrat untuk bikin tim balapnya masih ada. Kami mulai dari Kejurnas Motorprix region 2 (Pulau Jawa) yang persaingannya paling sengit. Mungkin tahun depan ikut Kejurnas Sport IRS,” kata Ranta yang juga pemilik dari tim Alam Bintan Sejahtera IRC NHK SSS. Bahkan, salah satu pembalapnya, Dedy Saputra akan diterbangkan ke Australia dalam waktu dekat. Bukan untuk belajar secara akademik, namun latihan secara fsik di sebuah institut akademi olahraga. Ia ingin pembalapnya matang secara fsik dan juga matang dalam berbahasa Inggris. Sebab, dengan modal dan sponsor yang mumpuni pria asal Tanjungpinang, Kep. Riau ingin segera berkompetisi di kancah Asia.

“Rencana untuk balapan di Asia itu sudah ada, kita ingin balapan di kelas Underbone 150 (UB150) terlebih dahulu. Sebab biar pembalap kami bisa berakselerasi dengan cepat dan balapan di internasional,” jelas Ranta. Untuk balapan di Asia, mungkin menunggu Dedy selesai ‘sekolah’ di Australia agar matang berkiprah di Asia. Lalu sambil menunggu pembalap yang lebih muda makin matang dengan kompetisi balap motor.

KONTROL ANAK LEWAT SOSMED

Di era milenial ini, pengaruh sosial media (Sosmed) terhadap anak sangat signifkan. Tak ayal, apapun yang sedang tren di dunia maya tentu bagai virus yang langsung diserap anak. Nah, Julian Noor punya solusi untuk mengatasinya. Menurut President Director Adira Insurance ini, sosmed adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan lagi untuk anak-anak yang disebut generasi milenial. Ini seperti pisau bermata dua, bisa untuk kebaikan atau justru mengarah pada hal buruk. Karena itulah orang tua harus bisa mengajarkan anak-anaknya menggunakan media tersebut untuk kebaikan. Lalu, bagaimana cara mengontrolnya? “Sebenarnya saat ini ada teknologi yang bisa dipakai untuk membatasi anak agar tidak mengakses hal yang buruk.

Namun, utamanya orang tua harus paham dan ikut memakainya agar tahu,” ujar pria yang lahir di Hulu Sungai, Kalsel ini. Julian pun mewajibkan orang tua untuk paham dan ikut menggunakan sosmed. Pria yang juga menjabat sebagai Executive Director Asosiasi Asuransi Umum Indonesia(AAUI) ini bisa memantau anak-anaknya dengan melihat kegiatan mereka di sosmed. Mulai update status, foto, keluhan hingga ia mengetahui sedang bersama siapa mereka bersosialisasi. “Agak sulit jika orang tua kurang paham sosmed, bahkan tidak menggunakannya. Karena sulit mengontrol anak dengan cara yang tidak kita ketahui, apalagi menerapkan penggunaannya untuk kebaikan,” pungkas pria 57 tahun ini. Bukan hanya sekadar memantau kegiatan anak, sosmed juga bisa digunakan untuk berbagi informasi. Misalnya mengenai perkembangan teknologi, orang tua dan anak bisa saling berbagi. Dengan saling berinteraksi, kedekatan orang tua dan anak bisa makin bagus.

Resep Produktivitas Tambak Agar Terus Meningkat Bagian 2

Tiga siklus sebelumnya, budidaya menggunakan pakan PV dengan protein 36%- 38%. Namun pada siklus terakhir, udang diberi pakan SGH, pakan rendah protein berkadar 30%-35%. “Pakan SGH bisa menurunkan biaya pakan karena harganya lebih murah di bandingkan pakan PV. Keung gulannya, pertumbuhan udang di perairan yang kurang baik tetap terjaga dan kualitas air lebih stabil serta FCR (nilai konversi pakan) tetap baik,” ujar Riswada didampingi Dwiko kepada AGRINA. Membangun IPAL Pada siklus ter akhir atau keempat, budidaya mengha dapi kendala curah hujan tinggi.

Jika hujan turun, salinitas anjlok dari 30 ke 18 sehingga mengakibatkan nafsu makan udang turun. Bahkan, 2 kolam juga sempat kebanjiran. Namun sebelum udang keluar ke kanal outlet, segera dipasang jaring di pematang kolam. Dwiko menimpali, kendala utama budidaya udang di Teluk Lampung adalah tingginya kadar TOM yang mendekati angka 100. Upaya yang dilakukan dengan sterilisasi dimulai dari tandon menggunakan TCCA (Trichloro iso cyanuric) atau kaporit. Untuk memperlambat kenaikan kadar TOM, mereka membangun instalasi pengolahan limbah (IPAL). IPAL berupa kanal mengelilingi kolam budidaya, dilanjutkan kolam pengendapan limbah cair. Setelah air dari kolam pengendapan jernih, baru dialirkan ke laut.

Menurut Riswanda, tambak udang di Punduh Pidada umumnya sudah memiliki tandon tapi pemanfaatan IPAL masih belum optimal. Di kolam PPI sendiri, ia mengakui, pemanfaatan kolam pengendapan untuk air buangan dari kolam bermasalah atau terserang penyakit. Berdasarkan pengalamannya, Riswanda menambahkan, tambak uzur bisa eksis jika pengelolaan konsisten dengan padat tebar rendah dan stabilisisasi parameter air. Termasuk, penggunaan pakan SGH secara tidak berlebihan dalam pemberian pakan (overfeeding).

Dengan sejumlah kiat dan resep budidaya tersebut, produktivitas farm ‘uzur’ berangsur-angsur meningkat. Awal siklus, produktivitas udang mencapai 10 ton/ha, menjadi 11 ton/ha di siklus kedua, dan 12 ton/ha di siklus ketiga. Pada siklus keempat masih ada beberapa kolam yang belum dipanen. “Tapi yang jelas trendnya naik,” ungkap Riswanda. Panen yang telah berlangsung di beberapa kolam pada siklus terakhir, udang dipanen pada umur 83 hari dengan ukuran 47. Dari 3 kali panen, SR di atas 80% dengan padat tebar 110 ekor/m2 dan FCR 1,1.