Profil Yusniar Amara Bagian 1

http://109.199.119.180/ Y USNIAR bersumpah tidak akan pernah menyelam lagi. Penyebabnya, ia hampir mati terseret ombak Pantai Lampuuk, Aceh Besar. Kejadian 14 tahun lalu itu Amara pernah sangat membekas di ingatannya. “Kaki saya tiba-tiba kram sehingga harus diseret seorang kawan ke pinggir pantai,” ucap Yus—sapaan akrab Yusniar—di kantor Pos Siaga SAR Sabang, Aceh, dua pekan lalu. Kala itu Yusniar, kini 36 tahun, sedang mengikuti pemusatan latihan tim selam Aceh Besar untuk menghadapi Pekan Olahraga Daerah (Porda) Aceh 2002. Ketika dia kram, rekannya lupa memberi tahu bahwa mereka sudah tiba di tepi. Yusniar lantas dilepas begitu saja. Bersamaan dengan itu, ombak datang dan menggulung dia kembali ke tengah laut. “Untung saya menahan napas agar tidak menelan air,” katanya. Yus selamat setelah membiarkan tubuhnya dimuntahkan ombak kembali ke pantai. Teman-temannya sempat berpikir Yus tewas. Sebab, tak banyak orang yang mampu selamat dari gulungan ombak seperti itu. Akibat kejadian itulah Yus mengeluarkan sumpah tersebut. Bukan apaapa, ia jengkel atas kelalaian temannya yang menyeret ke pantai dan melepaskannya. Tapi, keesokannya, Yus sudah menyelam lagi. Laut dan Yus kini seolah-olah tak bisa dipisahkan. Ia pun dikenal sebagai jagoan selam perempuan di antara anggota penyelamat Badan SAR Nasional (Basar nas). “Setahu saya, tidak ada perempuan di Basarnas yang punya kualifikasi seperti dia,” kata Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Badan SAR Nasional Noer Isrodin Muchlisin.

“Dia punya kemampuan spesial dalam menyelam.” Kebolehan Yus terlihat dari sertifikat yang dimiliki. Ia mengantongi sertifikat selam B1 dari Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia. Sertifikat itu untuk instruktur. Untuk mendapatkan sertifikat B1, Yus harus melalui beberapa tahap, dari mengambil sertifikat A1 (penyelam pemula), A2 (penyelam tingkat lanjut), dan A3 (penyelam yang sudah bisa melakukan aksi penyelamatan). Berbekal kemampuan menyelam, Yus dilibatkan dalam berbagai operasi penyelamatan besar, seperti pencarian pesawat dan awak pesawat Nomad P-833 milik TNI Angkatan Laut yang jatuh di perairan Ujung Karang, Sabang, Desember 2007; penyelamatan korban gempa dan tsunami Mentawai 2010; dan pencarian korban kapal pariwisata yang tenggelam di Danau Takengon, Aceh, pada 2012. Terakhir, Yus menjadi satu-satunya penyelam perempuan Indonesia yang dilibatkan dalam operasi SAR internasional pesawat AirAsia QZ8501, yang jatuh di Selat Karimata, awal tahun lalu. Sayangnya, operasi tersebut tidak berjalan mulus. Kegagalan itu bukan yang pertama dialami Yus. Perempuan yang besar di Indrapuri, Aceh Besar, ini pernah mengalami kegagalan yang lebih pahit, yakni gagal menemukan pacarnya yang hilang saat tsunami melanda Banda Aceh pada Desember 2004.

Tiga bulan operasi pencarian dilakukan, kekasihnya itu tak kunjung ditemukan. Kejadian tersebut membuat Yus terpukul. “Saat melakukan operasi pencarian itu, yang saya cari adalah jam tangan GShock yang saya yakini menempel di tangan kanannya. Itu hadiah dari saya setelah meraih medali perunggu selam di PraPekan Olahraga Nasional 2004,” ujarnya. Saking terpukulnya, Yus menolak ajakan menikah dari beberapa orang yang mencoba mendekati setelah kekasihnya dinyatakan hilang. “Tak semudah itu melupakannya. Saat masih menjadi relawan, kami selalu bersama-sama ketika ada operasi dan latihan SAR atau menjaga pantai,” tutur Yus. Hingga kini ia belum menikah. Pengalaman pahit itu tak lantas membuat Yus menjauhi kegiatan SAR. Pada 2006, setahun setelah diwisuda dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dia mengikuti tes untuk menjadi pegawai negeri sipil Basarnas. Pada saat yang sama, Yus juga mendaftar sebagai pegawai negeri sipil dinas pendidikan untuk menjadi guru. Yus lolos dari kedua tes tersebut, tapi lebih memilih masuk Basarnas. “Saya lebih merasa nyaman di Basarnas. Saya sudah akrab dengan dunia itu,” ucapnya. Sejak kuliah, Yus memang aktif di organisasi mahasiswa pencinta alam dan menjadi ketua perkumpulan itu. Kegiatan ini pula yang membuat ia akrab dengan Sabang, kota di Pulau Weh, yang berjarak 45 menit penyeberangan laut dari Pelabuhan Ulele, Banda Aceh.