Profil Yusniar Amara Bagian 2

Kota-Bunga.net “Semua gunung di Sabang sudah habis saya jelajahi,” kata Yus, yang juga mantan atlet karate. Setelah menjelajahi gunung-gunung itu, Yus mulai menyelami dunia bawah air pada 2002. Ini bermula ketika dia diminta menggantikan seorang atlet selam yang patah kaki untuk mengikuti Pekan Olahraga Daerah Aceh 2002. Sejak itulah ia jatuh cinta pada dunia bawah air. “Rasanya seperti pulang kampung,” ujar Yus ketika ditanya apa yang ada di kepalanya setiap kali menyelam. Kecintaan pada dunia selam ini jugalah yang mendorongnya bergerilya membentuk ulang kepengurusan Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia Aceh, yang porak-poranda akibat tsunami 2004. Dia juga memimpin teman-temannya kembali berlatih di pantai untuk menghadapi Kejuaraan Nasional Selam 2005. “Padahal saat itu orang-orang masih trauma ke pantai, kami malah mendatangi pantai.” Kepala Kantor SAR Banda Aceh Suyatno melihat potensi kepemimpinan dalam diri Yus.

Ia pun tak segan-segan mempercayakan tugas merintis pos SAR di Sabang kepadanya. Sejak Senin pekan lalu, Yus, yang kini berstatus sebagai rescuer berpangkat pengatur, mulai bertugas sebagai koordinator Pos Siaga SAR Sabang. “Dia punya banyak kenalan di sana dan bisa membuat anggotanya nyaman bekerja,” kata Suyatno. Juli Hermanto, anak buah Yus, mengatakan bosnya itu jago dalam berkoordinasi dan memiliki relasi yang luas. Masyarakat Sabang, menurut dia, banyak mengenal Yus karena ketangguhannya sebagai wanita langka di Aceh. “Ini membuat urusan mempersiapkan pos menjadi lebih mudah,” ujarnya. Soal ini, Yus mengatakan kemudahannya dalam mendapatkan bantuan adalah berkat relasi akrabnya dengan anggota instansi penting di Sabang, seperti TNI dan kepolisian. “Apalagi ini urusan kemanusiaan, mereka pasti bersedia membantu,” ujarnya. Kini Yus sudah punya “keluarga kecil” di Sabang: satu kantor dan tiga bawahan—Juli, Hasyimi, dan Musallim. Mereka berempat sangat akrab sejak bertugas di Banda Aceh. Selama tiga hari Tempo bersama mereka di Sabang, terlihat bahwa ketiga lelaki itu menaruh respek terhadap Yus. Sedangkan Yus memperlakukan mereka seperti adik sendiri. Tak jarang masalah pribadi mereka ungkapkan dan meminta nasihat dari sang kakak. Agar hubungan mereka lebih akrab, tak jarang Yus mengundang ketiga anak buahnya itu ke tempat tinggalnya untuk menikmati masakannya. “Kak Yus memang pandai menempatkan diri,” kata Juli. “Dia tahu kapan memunculkan sisi femininnya dan kapan harus bersikap seperti lelaki. Dia sama sekali tidak kaku.” Begitulah Yus. Terkadang bisa tegas, tapi suaranya juga bisa lembut ketika sedang bersenandung di mobil, seperti saat kami menyusuri jalanan Sabang yang naik-turun dan berkelok-kelok mengitari perbukitan. Saat menemukan pemandangan bagus, dia pun minta berhenti untuk berfoto