Indonesia Nomor 12 Produsen Broiler

Pertumbuhan industri perunggasan dunia tercepat akan terjadi di Asia. Hal itu disebabkan oleh besarnya pertumbuhan kelas menengah di kawasan ini. “Sebanyak 60% kelas menengah (dunia) akan tumbuh di Asia,“ ujar Dr Jan van Eys, Principal Global Animal Nutrition Solutions dari Prancis dalam acara Indonesia Broiler Nutrition & Feed Technology Conference di Yogyakarta (11-12/12). Van Eys pun memprediksi, Indonesia juga akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri perunggasan dunia dengan mengambil porsi mencapai 2,4% per tahun hingga 2026.

Ia menghitung, produksi daging broiler dunia 2017 mencapai 95 juta ton dan Indonesia merupakan penghasil daging broiler peringkat ke-12 dengan produksi 1,7 juta ton. Posisi ini di bawah Malaysia yang mencapai 1,71 juta ton dan Thailand sebanyak 1,965 juta ton. Pertumbuhan kebutuhan protein hewani dunia hingga 2035 mencapai 45% atau setara hampir 800 juta ton protein. Kebutuhan protein ini, lanjut Van Eys, di – penuhi dari seafood, telur ayam, daging sapi, daging babi, dan daging ayam. Selama kurun 2015-2025 diperkirakan pertumbuhan konsumsi protein asal seafood sebesar 1,4%, telur ayam 1,8%, daging sapi 1,2%, daging babi 1,4%, dan daging ayam sebesar 2,4% per tahun.

Industri perunggasan maju lebih cepat dari sektor peternakan lain karena harga produk yang lebih terjangkau, serta telah majunya teknologi pada industri ini sehingga mampu memproduksi ayam dan hasil olahan dalam jumlah besar secara efisien. Sebagai contoh, FCR ayam pada 2017 sebesar 1,58 dan tahun lalu 1,49. Peningkatan percepatan pertambahan berat badan ayam mencapai 45 g per tahun.

Dongkrak Penjualan, Bulog Yogya Gandeng Grab

Untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jaringan pemasaran produk komersial Bulog, seperti beras, gula, mi nyak goreng, tepung, dan daging, Perum Bulog Divre Yogyakarta menggandeng Grab. Kepala Bulog Divre Yogyakarta, Akhmad Kholisun mengungkapkan, produk pangan Bulog yang dijual melalui Rumah Pangan Kita (RPK) dan mitra terus meningkat. “Hingga saat ini jumlah RPK di wilayah Yogyakarta dan Kedu Raya sudah mencapai 6.000-an.

Kerjasama dengan driver Grab diharapkan akan semakin men dekatkan produk ‘Pangan Kita’ dengan masyarakat,” katanya seusai penanda tanganan nota kesepahaman di Gudang Perum Bulog, Kalasan, Sleman. Kerjasama ini akan saling mengun tungkan kedua belah pihak. Bagi Bulog, jangkauan pemasaran bisa semakin luas.

Sedangkan bagi para pengemudi Grab, mereka bisa menambah penghasilan dengan menjual produk Bulog. Jika di wilayahnya belum ada RPK, pengemudi bisa mendirikan RPK dengan fasilitas harga sama seperti RPK. Namun jika sudah ada RPK, mereka bisa menjadi agen penjualan secara mobile. “Awal tahun Bulog menargetkan sekitar 10.000 driver Grab di wilayah Yogyakarta dan Kedu Raya dapat turut memasarkan semua produk Bulog,” tandas Kholisun.