Tiga siklus sebelumnya, budidaya menggunakan pakan PV dengan protein 36%- 38%. Namun pada siklus terakhir, udang diberi pakan SGH, pakan rendah protein berkadar 30%-35%. “Pakan SGH bisa menurunkan biaya pakan karena harganya lebih murah di bandingkan pakan PV. Keung gulannya, pertumbuhan udang di perairan yang kurang baik tetap terjaga dan kualitas air lebih stabil serta FCR (nilai konversi pakan) tetap baik,” ujar Riswada didampingi Dwiko kepada AGRINA. Membangun IPAL Pada siklus ter akhir atau keempat, budidaya mengha dapi kendala curah hujan tinggi.

Jika hujan turun, salinitas anjlok dari 30 ke 18 sehingga mengakibatkan nafsu makan udang turun. Bahkan, 2 kolam juga sempat kebanjiran. Namun sebelum udang keluar ke kanal outlet, segera dipasang jaring di pematang kolam. Dwiko menimpali, kendala utama budidaya udang di Teluk Lampung adalah tingginya kadar TOM yang mendekati angka 100. Upaya yang dilakukan dengan sterilisasi dimulai dari tandon menggunakan TCCA (Trichloro iso cyanuric) atau kaporit. Untuk memperlambat kenaikan kadar TOM, mereka membangun instalasi pengolahan limbah (IPAL). IPAL berupa kanal mengelilingi kolam budidaya, dilanjutkan kolam pengendapan limbah cair. Setelah air dari kolam pengendapan jernih, baru dialirkan ke laut.

Menurut Riswanda, tambak udang di Punduh Pidada umumnya sudah memiliki tandon tapi pemanfaatan IPAL masih belum optimal. Di kolam PPI sendiri, ia mengakui, pemanfaatan kolam pengendapan untuk air buangan dari kolam bermasalah atau terserang penyakit. Berdasarkan pengalamannya, Riswanda menambahkan, tambak uzur bisa eksis jika pengelolaan konsisten dengan padat tebar rendah dan stabilisisasi parameter air. Termasuk, penggunaan pakan SGH secara tidak berlebihan dalam pemberian pakan (overfeeding).

Dengan sejumlah kiat dan resep budidaya tersebut, produktivitas farm ‘uzur’ berangsur-angsur meningkat. Awal siklus, produktivitas udang mencapai 10 ton/ha, menjadi 11 ton/ha di siklus kedua, dan 12 ton/ha di siklus ketiga. Pada siklus keempat masih ada beberapa kolam yang belum dipanen. “Tapi yang jelas trendnya naik,” ungkap Riswanda. Panen yang telah berlangsung di beberapa kolam pada siklus terakhir, udang dipanen pada umur 83 hari dengan ukuran 47. Dari 3 kali panen, SR di atas 80% dengan padat tebar 110 ekor/m2 dan FCR 1,1.