S R I H A R T A T I PERTAMA DIANGKAT BERAT

C EDERA tangan mengubur mimpi Sri Hartati menjadi atlet angkat besi. Musibah itu menimpa Sri ketika menjalani latihan pergelangan rutin di Padepokan Gajah Lampung, Pringsewu. Kala itu Sri masih pelajar sekolah menengah atas. “Rasanya stres berat membayangkan tak bisa bertanding lagi,” kata Sri, ketika menceritakan peristiwa itu, Ahad dua pekan lalu. Sri tertarik pada cabang olahraga angkat besi sejak duduk di kelas VI sekolah dasar. Waktu itu, sejumlah atlet angkat besi nasional mendatangi sekolah untuk mencari bibit baru. Mendengar cerita atlet angkat besi bisa keliling dunia, Sri mendaftar. Semula orang tua Sri tak setuju. Namun, karena Sri berkukuh, orang tuanya luluh. Sewaktu masuk sekolah menengah pertama, Sri berlatih saban pagi sebelum berangkat ke sekolah.

Pada 2003, ketika usianya 16 tahun, Sri mengikuti kejuaraan remaja angkat besi di Korea Selatan. Itulah pengalaman pertamanya ke luar negeri. Setelah menjuarai Pekan Olahraga Nasional pada 2004, Sri mengalami akumulasi cedera pergelangan tangan. Pelatih dia, Anna Maria, akhirnya menyarankan Sri pindah ke cabang olahraga angkat berat. Dibanding angkat besi, cabang ini kurang bergengsi karena tak dilombakan di Olimpiade. Toh, Sri menuruti saran Ana karena angkat berat tak menuntut kekuatan pergelangan tangan. “Kalau bertahan di angkat besi, kamu tak akan berprestasi,” kata Anna kala itu. Keyakinan Anna tak meleset. Sri, kelahiran Lampung 31 tahun lalu, menjadi atlet angkat berat Indonesia pertama yang meraih gelar juara dunia. Sejak 2010, Sri empat kali menyabet trofi juara dunia. Di kejuaraan AsiaOceania Championship 2014, Melbourne, Australia, Sri memecahkan rekor dunia dengan angkatan 141 kilogram. Rekor itu belum terpecahkan sampai saat ini.