Umbi Lokal Sebagai Menu Camilan di Catering Nasi Box Jakarta

Umbi Lokal Sebagai Menu Camilan di Catering Nasi Box Jakarta – Wakatobi tidak hanya menyimpan kekayaan hayati bawah laut. Potensi pangannya pun cukup mencengangkan. Bersama beberapa teman seniman Indonesia yang terpilih oleh WWF Indonesia dan RCUS (Rujak Centre for Urban Studies). Saya menelusuri potensi pangan kota ini dalam program Ekspedisi Liwuto Pasi, saya berkesempatan untuk menelusuri potensi pangan Wakatobi.

Segala kebaikan yang diberikan alam bagi kita, tertancap di bawah tanah berkarang, terpapar sinar matahari, serta terpaan angin laut Sulawesi Tenggara. Selain singkong, opa dan kano merupakan umbi yang populer di Wakatobi. Inilah jenisnya. Opa Kaledupa (gembili di Jawa) Di pulau Kaledupa, warga lokal membicarakan opa seolah orang Jawa berdiskusi tentang beras. Umbi ini dipanen setiap bulan Agustus tiap tahun. Masa penyimpannnya cukup panjang, bisa samapi satu tahun.

Masyarakat menyantapnya dengan cara sederhana, yakni direbus, dibuat seperti bubur/jenang bernama ndavu-ndavu atau digoreng menjadi keripik senga-senga. Ketika saya membawa beberapa sub varietas opa (Dioscorea aculeata) kembali ke Jakarta untuk diteliti, ditemukan bahwa opa Wakatobi memiliki kadar pati yang tinggi sehingga cocok untuk dijadikan tepung. Tepungnya bisa diolah menjadi aneka pangan seperti kue, roti, atau pengganti nasi.

Keluarga Dioscorea ini merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, dan sudah ada di Indonesia dari ribuan tahun yang lalu. Ada empat jenis yang sering ditanam di Kaledupa, yakni opa Lelu, opa Lengke, opa Larantuka, dan opa Kumbili. Masing-masing memiliki tekstur yang kurang lebih sama dengan rasa yang seragam, tawar cenderung manis, dan tanpa aroma kuat. Selain opa/gembili, ada juga aneka ragam kano (uwi). Yang sempat terekam ada 28 jenis dan tumbuh hanya di pulau Kaledupa saja.

Kano Kaledupa Yang Kaya Rasa Di Jawa, ada banyak jenis kano/ uwi (Dioscorea alata/Esculenta) yang beraroma lebih kuat namun memiliki rasa yang jauh lebih manis sehingga kano di Jawa lebih cocok dijadikan sebagai camilan bukan sebagai makanan pokok. Di Wakatobi, kano cocok sekali dijadikan penganan pokok, namun sayangnya belum ada banyak penelitian dan penggunaan teknologi tepat guna yang didedikasikan untuk tumbuhan asli Indonesia ini.

Menurut Pak Samudi, petani yang mendedikasikan hidupnya untuk bertanam opa dan kano di pulau Kaledupa, ada beberapa jenis kano yang khusus digunakan untuk makanan yang dihidangkan di upacara tradisional Nabudasa’a atau acara selamatan bayi baru lahir. Ada ifi Kuu, ifi Kanari, dan ifi Tariya. Lewat uji citarasa yang sempat Saya lakukan, ada banyak letupan kejutan rasa, aroma, dan juga tekstur dari ragam kano Kaledupa. Misalnya pada ifi Lossi Mahute yang memiliki kandungan pati tinggi dengan tekstur padat, cocok dijadikan sebagai makanan pokok.